Pages

Modal Seorang Guru

Dalam dunia perekonomian, pelaku bisnis sangat memerlukan modal untuk kelangsungan usahanya. Dengan modal yang dimilikinya dapat menghasilkan laba sesuai yang diharapkan tentu saja dengan cara mengoptimalkan modal yang dimilikinya, yang menjadi pertanyaan penulis apakah begitu juga dalam dunia pendidikan yang notabene tidak semata-mata menghasilkan keuntungan dalam nilai uang tetapi keberhasilan anak didik yang terwujud menjadi manusia yang berdaya guna sehingga mampu menjadi manusia yang beraklak, mandiri, inovasi dan memiliki daya saing sesuai dengan kemajuan budaya, teknologi dan peradapan yang semakin modern dengan tuntutan hidup yang beraneka ragam.
Dengan keberhasilan anak didik dalam tingkat peradapan yang lebih maju berarti apabila hasil kerja guru dilihat dari nilai laba berarti laba disini adalah laba yang tak ternilai harganya. Jadi menurut penulis keberhasilan seorang guru dalam mengasuh dan mendidik anak didik jauh lebih menguntungkan, oleh karena itu supaya berhasil dengan baik sehingga mampu memberikan keuntungan yang berlipat ganda bagi anak didik maka seorang guru hendaknya dibekali dengan modal, tentu saja dengan modal yang ada dan dikelola dengan sebaik mungkin, adapun modal yang dimaksud adalah :
1. Modal Personal
Modal personal adalah modal yang dimiliki oleh guru selaku pembimbing dan pengajar. Adapun modal yang tergolong dalam modal personal adalah :
a. Kesabaran
Keanekaragaman anak didik dengan berbagai perilaku yang beraneka ragam karena berasal dari berbagai latar keluarga, latar masyarakat, latar ekonomi, latar kebudayaan dan latar wawasan yang berbeda-beda mengakibatkan berbagai macam perilaku siswa yang beraneka ragam. Dengan berbagai keragaman inilah seorang guru harus menghadapinya dengan kesabaran, karena dengan kesabaran maka akan mampu berbuat bijaksana dalam menghadapi segala permasalahan yang ada. Bahkan kesabaran ini juga akan disertai dengan kelembutan tingkah laku dan tutur kata yang biasanya amarah siswa akan bisa dikendalikan dengan kesabaran bahkan rasa kedekatan siswa terhadap gurunya juga dibekali kesabaran guru terhadap anak didiknya, dalam hal ini saling keterbukaan dan kedekatan guru akan terjadi komunikasi dua arah yang akhirnya kesulitan, ketakutan, keraguan yang ditemui siswa akan terhindari dengan saling tanya jawab antara siswa dengan guru. Dalam dunia pendidikan masalah like dan dislike siswa terhadap gurunya akan berpengaruh pada kualitas belajar siswa yang pada akhirnya akan berpengaruh pada output yaitu nilai yang dihasilkannya, bahkan setelah sekian lama tidak berjumpa gurunya tidak jarang anak didik akan menghampiri guru karena kangen dan yang terlontar adalah pertanyaan apakah masih tinggal ditempat yang sama dan apakah masih ngajar ditempat yang sama dan terlontar pernyataan “Sampeyan adalah guru yang sabar”. Jadi menurut penulis pelajaran yang kita ajarkan mungkin sudah sirna karena perkembangan pengetahuan tetapi kesabaran guru terhadap anak didiknya akan lebih dikenang sepanjang masa.

b. Rasa Menyayangi
Apabila kita berbicara masalah rasa, dari semasa bayi pun sudah bisa merasakan dan bisa membedakan rasa, mana yang sayang dan mana yang tidak, seorang bayi akan mampu membedakan, hal ini akan terlihat pada perilaku bayi yang tidak semua orang ia kehendaki, apabila dipaksa maka ia akan menangis. Begitu juga dengan anak didik, mereka tidak akan menerima apabila seorang guru pilih kasih, terlebih lagi suka berbuat dan bertutur kasar, hal ini hanya akan mempersulit guru dalam mentransfer ilmu pada anak didik karena tidak menerima guru dengan alasan merasa tidak disayangi. Banyak tingkah laku anak didik untuk mendapatkan perhatian guru misalnya bertingkah dan bertutur yang kurang baik saat KBM berlangsung.
Seorang guru yang memiliki rasa sayang akan menanggapi anak didik tersebut dengan tenang tanpa rasa amarah, bahkan membimbingnya dengan menunjukkan sikap mana yang baik dan yang buruk dengan cara pendekatan ke anak didik tersebut. Biasanya dengan kasih sayang mampu mengubah perilaku anak sesuai dengan yang kita inginkan atau sesuai dengan kaidah-kaidah dan sopan santun yang ada di masyarakat.
c. Berwawasan luas
Secara tidak langsung terkadang siswa mengetes guru dengan pertanyaan-pertanyaannya, siswa akan menilai kemampuan guru melalui jawaban yang diberikannya. Kepercayaan anak didik terhadap kemampuan guru menjadi modal untuk keberhasilan guru dalam proses KBM. Untuk itu guru hendaknya memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas terutama perkembangan teknologi dan perkembangan proses pembelajaran. Akan menjadi aneh apabila seorang guru memberi tugas untuk mengakses suatu artikel melalui internet sesuai dengan tugas yang tertera dalam lembar kerja siswa, padahal guru sendiri masih buta akan internet.
d. Tekun dan teliti
Ketekunan dalam bekerja akan berdampak pada frekunsi kesertaan anak didik dalam proses KBM, apabila seorang guru bekerja dengan tekun, anak didik akan berpikir panjang untuk meninggalkan kelas, apalagi tidak masuk sekolah karena alasan-alasan yang kurang penting.
Biasanya guru yang berhalangan untuk menjalankan tugasnya akan meninggalkan tugas pada siswa yang tentu saja ada tindak lanjut dari tugas tersebut misalnya membahas kembali pada pertemuan berikutnya hal tersebut akan dilakukan oleh guru yang tekun.
Ketekunan akan berkurang apabila tidak disertai dengan ketelitian artinya setiap tindakan guru harus diteliti dampaknya terhadap anak didik apakah berdampak baik atau sebaliknya, sehingga dari hasil pengamatan ini guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi, sarana dan prasarana yang ada dengan bekal ketekunan dan ketelitian tentunya karena anak didik akan terbiasa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan teliti apabila guru juga meneliti dengan cermat fortofolio anak didik.
e. Menjadi contoh
Tingkah laku guru baik di kelas maupun di luar kelas senantiasa menjadi sorotan anak didik bahkan kebiasaan-kebiasaan guru di rumah juga akan menjadi kaca bagi anak didik yang tempat domisilinya dekat. Oleh karena itu akan menjadi boomerang bagi guru apabila antara ucapan dan tindakan tidak sesuai dan akan menjadi parah lagi apabila anak didik sudah tidak percaya lagi dengan guru, karena secara tidak langsung juga meragukan apa yang telah disampaikan dalam proses KBM.

2. Modal Profesional
Guru akan bekerja secara profesional apabila memiliki modal yang mencakup kemantapan wawasan, pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap dalam bidang ajar/ materi yang disampaikan. Untuk bekerja secara professional tentu saja guru harus memiliki kapasitas dan kwalitas diri yang menonjol karena akan menjadi mustahil apabila guru tidak mengetahui karena ketinggalan informasi karena minimnya kesadaran guru untuk mengikuti perkembangan iptek sehingga banyak keterangan guru yang sudah tidak relefan dengan pandangan atau teori-teori lama.

3. Modal Sarana dan Prasarana
Minimnya sarana dan prasarana akan menjadi kendala bagi kelancaran KBM. Untuk kegiatan praktek di laboratorium diperlukan sarana dan prasarana yang mewadai karena dengan melakukan praktek di laboratorium akan memberikan kemudahan pada anak didik dalam memahami suatu materi. Mahalnya biaya pengadaan bahan-bahan serta peralatan untuk melakukan praktikum akan menjadi kendala bagi kelancaran KBM, disisi lain untuk mata pelajaran Fisika, Biologi, Kimia ada penilain secara psikomotor dengan demikian akan menjadi mengada-ada apabila tidak melakukan kegiatan praktikum tetapi memiliki nilai psikomotor. Untuk menghadapai hal seperti ini merupakan tantangan bagi seorang guru untuk melukukan tindakan yang inovatif dengan cara pengajuan proposal pada instansi terkait untuk pengajuan pengadaan sarana dan prasarana demi tersedianya sarana dan prasarana pendukung KBM.

0 komentar:

Post a Comment